Showing posts with label kisah mujahid. Show all posts
Showing posts with label kisah mujahid. Show all posts

Wednesday, May 25, 2016

Perjalanan Jihad Abu Ali Umari, Seorang Mantan Syiah Alawiyah

Perjalanan Jihad Abu Ali Umari, Seorang Mantan Syiah Alawiyah

Abu Ali Umari, begitu orang mengenalnya. Ia juga pernah disebut dengan Abu Ali Alawi karena memang dia adalah pengikut Syiah Alawiyah. Waktu masih memeluk Syiah, ia adalah seorang tentara dan berada di divisi tank sebagai seorang pengemudi.

Abu Ali berasal dari provinsi Homs dan kisahnya ini diceritakan oleh Abu Mus’ab Al-Anshory kepada korespondenarrahmah.com di tanah Syam.

Kisah hijrah Abu Ali Umari berawal saat ia tertangkap oleh Mujahidin Jabhah Nushrah yang melancarkan penyerangan ke markas tentara rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad di mana ia ditugaskan. Dalam serangan itu, Abu Ali ditangkap dan ditahan oleh Mujahidin. Dengan dakwah sunnah secara intensif dari pihak rehabilitasi penjara, akhirnya Abu Ali tersadar dan dengan sukarela menyatakan bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang haq

Setelah melihat kelakuan baiknya dan keinginannya yang kuat untuk mendalami Al-Qur’an dan Sunnah selama berada di dalam tahanan Mujahidin, akhirnya ia dibebaskan dan ia memilih bergabung dan berperang di sisi Mujahidin daripada kembali ke keluarganya yang masih menjadi penganut Alawiyah.

Abu Ali Umari dikenal sebagai sosok yang ramah dan suka bercanda, namun perilakunya juga sedikit kasar karena memang latar belakangnya adalah Alawiyah yang sejak revolusi Suriah meletus, orang-orang Alawiyah dikenal sebagai orang yang kejam di barisan pasukan rezim Asad.

Setelah bergabungnya Abu Ali dalam barisan Mujahidin di divisi lapis baja pasca penaklukan kota Idlib, ia memilih duduk sebagai pengemudi tank T-72 buatan Rusia.

Penyerangan bukit Hamra

Satu dari banyak hal yang diingat dari kisah Abu Ali Umari adalah saat ingin melakukan penyerangan di bukit Hamra, pedesaan timur provinsi Hama yang penduduknya mayoritas pemeluk Syiah. Saat itu ia berada dalam satu tank bersama dua orang lainnya yang berposisi sebagai gunner dan observer yang sekaligus penembak senapan mesin doshka dengan kaliber 12,7×108 mm.

Sebelum penyerangan dimulai, Abu Ali melontarkan candaan sambil terus tersenyum kepada rekan-rekannya.

“Hai Abu Mus’ab, kita akan menyerang orang-orang Alawiyin, jika nanti kita sudah sampai di tengah-tengah mereka, saya akan tembak kalian berdua dari dalam (sambil memperagakannya) lalu saya akan turun dari tank dan melambaikan tangan kepada kalian,” ujar Abu Mus’ab Al-Anshory mengikuti ucapan Abu Ali saat itu, kepada korespondenarrahmah.com.

Mereka tertawa bertiga, lalu membalas candaaan Abu Ali.

“Bagaimana jika setelah itu para tentara Syiah akan menangkap dan membunuhmu?”

Abu Ali saat itu menjawab: “Aku akan mengaku kalau aku adalah seorang Alawiy dan aku mengerti kebiasaan danlahjah (gaya bicara) mereka, mereka tidak akan menangkapku.”

Mendengar jawaban tersebut, ketiganya kembali tertawa lalu terdiam sejenak. Setelah itu Abu Ali dengan ringan mengatakan: “Jangan takut saudaraku, aku mencintai kalian karena Allah, dengan pertolongan Allah kita akan hancurkan mereka semua.”

Lalu ketiganya bertakbir dan berpelukan serta saling mendoakan.

Abu Ali Umari dan timnya. (Foto: Dokumen arrahmah.com)

Saat itu setelah komandan tertinggi penyerangan mengambil keputusan, tank T-72 yang dikendarai abu Ali tidak menjadi tank yang berada di depan, melainkan tank cadangan yang berada di belakang bersama beberapa kendaraan tempur infanteri BMP.

“Saya pribadi tidak bisa mengungkapkan bagaimana campur aduknya perasaan hati saya saat itu, sedih dll bercampur menjadi satu karena tim kami tidak terpilih menjadi tank penyerang pertama, melainkan hanya sebagai tim cadangan jika ada masalah pada tank lainnya,” ungkap Abu Mus’ab.

Sore itu cuaca seperti mendukung penyerangan oleh Mujahidin, langit sedikit mendukung dan gerimis ringan pun turun membasahi bumi.

Setelah persiapan, tim penyerang pun berangkat dan menempuh jarak sekitar 4 kilometer menuju posisi tentara Syiah dengan medan yang gersang dan sedikit bergurun. Untuk melindungi tim penyerang hingga sampai di posisi paling dekat dengan pasukan rezim Asad, tembakan perlindungan pun dilancarkan dengan berbagai macam senapan mesin berat hingga meriam mulai dari kaliber 37 dan 57 mm, mortar serta tembakan tank T-55 dan T-62 dengan kaliber 100 mm dan 115 mm.

Qadarullah saat itu serangan tidak mengalami keberhasilan dan pasukan ditarik mundur ke titik awal.

Penyerangan di Kafraya dan Fuaa

Kisah lainnya yang dikenang dari Abu Ali Umari adalah saat ia kembali dipilih menjadi pengemudi tank T-72 yang akan menyerang ke posisi Syiah di desa Kafraya dan Fuaa.

Setelah mendapat komando untuk menyerang, Abu Ali langsung tancap gas dan tank-nya pun melaju dengan kencang, saat itu Abu Ali sangat bersemangat untuk memporak-porandakan pertahanan para Syiah hingga ia tidak lagi menunggu-nunggu gunner-nya untuk menembak doshma-doshma (bunker) pertahanan para tentara Syiah.

Ia menggilas dan menabrak semua doshma yang ada di depannya, hingga banyak dari tentara Syiah yang mati terhimpit di dalam doshma-doshma mereka.

Abu Ali bersama tank-nya terperosok ke sebuah parit yang dalam yang sebelumnya telah di gali oleh para tentara Syiah dan ditutupi sedemikian rupa hingga sulit membedakan nya. Abu ali terus mencoba memaksa tank-nya agar bisa naik dari parit yang dalam tersebut, karena parit itu cukup dalam akhirnya Abu Ali Umari tidak bisa menggerakkan tank-nya.

Ditengah-tengah posisi musuh Abu Ali tidak kehabisan akal, ia timnya keluar meninggalkan tank, berbekal senapan serbu otomatis dan beberapa magazine peluru di rompinya, Abu Ali dan timnya maju menyerang musuh sambil bertakbir.

Sambil menunggu pasukan bantuan datang Abu Ali dan rekan-rekannya terlibat dalam baku tembak yang sengit dengan tentara Syiah, namun itu tidak menyurutkan semangat tempur mereka. Setelah pasukan bantuan datang dan kekuatan baku tembak sedikit berimbang, sebuah peluru mortar dengan kaliber yang tidak terlalu besar, sekitar 60 mm, jatuh sangat dekat dengan Abu Ali Umari, saat itu para pejuang mengira Abu Ali telah syahid, setelah tim medis pasukan mengevakuasinya ke rumah sakit lapangan, ternyata Abu Ali hanya pingsan dan mengalami sedikit luka akibat pecahan peluru mortar.

Alhamdulillah penyerangan kali itu berhasil cukup baik sehingga posisi Mujahidin menjadi sangat dekat dengan pusat kota Kafraya dan Fuaa.

Penyerangan desa Khontuman, Aleppo selatan

Penyerangan kali itu, Abu Ali bersama timnya kembali terpilih sebagai tank penyerang, yang akan menyerang posisi tentara koalisi Syiah internasional yang berusaha maju dari arah desa Khontuman, Aleppo selatan.

Setelah tembakan-tembakan tamhid (cover) dilancarkan dari senjata-senjata berkaliber besar serta meriam-meriam kelas berat buatan mujahidin yang terdiri dari mortar, meriam jahannam dan roket fiil(gajah), Abu Ali dan tank lainnya pun maju menyerang.

Dengan pertolongan Allah, penyerangan kali itu cukup mudah. Meskipun tentara Syiah di bantu oleh serangan udara dari pesawat-pesawat tempur koalisi mereka, namun dengan pertolongan Allah semua itu tidak mampu menghentikan penyerangan Mujahidin. Banyak tentara Syiah Iran yang mati dalam pertempuran itu dan sebagian lainnya lari meninggalkan desa Khontuman.

Mujahidin memperoleh ghanimah yang banyak berupa kendaraan-kendaraan tentara Syiah serta persenjataan yang banyak yang mereka tinggalkan. Setelah memperoleh kemenangan, takbir para mujahidin bergema di seluruh lokasi peperangan, Allahuakbar!

Gugurnya Abu Ali Umari

Dua hari setelah penyerangan di desa Khontuman, panglima tertinggi memutuskan untuk melanjutkan penyerangan terhadap posisi tentara koalisi Syiah internasional yang mundur ke arah selatan kota Aleppo, agar mereka kewalahan dan tidak punya banyak waktu untuk menyusun strategi pertahanan.

Setelah selesai menunaikan sholat Subuh berjama’ah, Abu Ali Umari dan rekan-rekannya saling berpelukan dan saling mendoakan, lalu pergi memacu tank-nya bergerak ke titik paling depan dari posisi ribath Mujahidin yang akan di jadikan titik tolak penyerangan.

Cuaca di pagi hari itu masih sedikit gelap, di tengah perjalanan melewati medan yang sedikit terbuka, dan mungkin juga wilayah tersebut telah di pantau terus menerus oleh para tentara Syiah, tiba-tiba sebuah guided missile anti-tank buatan Rusia meluncur dari arah kota menghantam tank Abu Ali Umari, ledakan api besar terlihat jelas dari kejauhan.

“Berangkat dari disiplin ilmu yang telah di pelajari di divisi lapis baja, ketika sebuah roket anti-tank menghantam, para awak di dalam tank hanya mempunyai waktu kurang dari 10 detik untuk keluar meninggalkan tank sebelum panasnya api dari ledakan membakar peluru-peluru di dalam tank dan meledakkannya,” ungkap Abu Mus’ab.

Abu Ali dan timnya segera bergegas keluar meninggalkan tank, saat itu para awak tank tidak mengalami luka sedikitpun, kecuali Abu Aliyang mengalami sedikit luka ringan, setelah berhasil turun dari tank dengan sedikit sempoyongan Abu Ali dan tim berusaha mencari tempat perlindungan agar aman dari tembakan berikutnya.

Namun, tentara Syiah melanjutkan tembakan dengan menghujani posisi Abu Ali dan timnya dengan berbagai macam tembakan dari mortir, rojamat (termobaric misil) dan senjata lainnya sehingga membakar dan menghanguskan lokasi Abu Ali dan timnya hingga radius ratusan meter.

Qadarullah, dengan begitu banyaknya tembakan ke arah Abu Ali, menjadi sebab Allah memilih Abu Ali Umari sebagai syuhada (In syaa Allah). Pada pagi hari itu dia kembali menghadap Rabbal’alamin.

Setelah tembakan mereda, Mujahidin berupaya mencari Abu Ali Umari. Mereka menemukan jasad Abu Ali tergeletak tidak jauh dari tank.

Mengingat banyaknya tembakan ke arah tim tersebut, tidak mungkin tubuh manusia bisa tetap utuh, pasti akan tercerai-berai. Namun karena kuasa Allah, jasad Abu Ali Umari tetap utuh dan hanya mengalami sedikit luka bakardi beberapa bagian tubuhnya.

Selamat jalan wahai pejuang yang mulia, semoga Allah, menerima amal ibadah jihadmu, dan menempatkanmu di barisan para Syuhada‘ di surga firdaus yang tertinggi. Aamiin.(haninmazaya/arrahmah.com)

Sunday, May 1, 2016

Amar bin Thabit; Syahid Setelah Ucapkan Syahadah

Amar bin Thabit; Syahid Setelah Ucapkan Syahadah

 

Syahid Selepas Mengucapkan Syahadah

     Suatu ketika tatkala Rasulullah S.A.W sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui baginda. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah S.A.W. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan.

     Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar. 
     Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah
     kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinay sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Nabi S.A.W, menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Nabi S.A.W. 
     Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.

     Nabi S.A.W menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira., tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad S.A.W. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. 
     Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.

     "Untuk apa ikut ke mari ya Amar !" Demikian tanya orang yang heran melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut saja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi."

     Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasul S.A.W, maka baginda pun bersabda,, "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Nabi S.A.W berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah."

     "Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, 
     "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." 
     Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Nabi S.A.W . Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. 
     Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Nabi S.A.W menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.

     Nama-Nama Syurga Dan Neraka
     Tingkatan dan nama-nama syurga ialah :

     1. Firdaus
     2. Syurga 'Adn
     3. Syurga Na'iim
     4. Syurga Na'wa
     5. Syurga Darussalaam
     6. Daarul Muaqaamah
     7. Al-Muqqamul Amin
     8. Syurga Khuldi
     Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :-
     1. Neraka Jahannam
     2. Neraka Jahiim
     3. Neraka Hawiyah
     4. Neraka Wail
     5. Neraka Sa'iir
     6. Neraka Ladhaa
     7. Neraka Saqar
     8. Neraka Hutomah


Subhanallah....

Friday, April 29, 2016

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, Istri Khalifah Yang Barsahaja

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, Istri Khalifah Yang Barsahaja

Mujahidah: Fatimah binti Abdul Malik, Istri Khalifah yang Bersahaja

Beruntung Umar bin Abdul Aziz Al-Umawi menikahi Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, sosok perempuan yang nyaris sempurna. Dia cantik, cerdas, keturunan terpandang, kaya raya, serta taat beribadah.

Pasangan ini dikaruniai seorang putra yang diberi nama Abdul Malik bin Umar. Sebagai suami yang bertanggung jawab, Umar berusaha memenuhi keinginan istri dan anaknya. Namun, Fatimah telah memiliki harta dan perhiasan yang melimpah pemberian dari ayahnya. 

Kekayaan keluarga ini menjadi ‘masalah’ ketika Umar yang tidak lain cicit Khalifah Umar bin Khathab ini didaulat sebagai pejabat pemerintah. Dia menyadari sebagai khalifah memiliki beban yang sangat berat, terutama godaan harta.

Karenanya sebelum memegang amanah, dia mengajak Fatimah mengurangi beban hidupnya dengan cara menyerahkan semua harta, berikut perhiasan yang dimiliki Fatimah ke Baitul Mal.

Selanjutnya, Umar mengajukan dua pilihan kepada istrinya. Jika Fatimah setuju dengan usulan tersebut, keluarga ini bisa melanjutkan biduk rumah tangga. Sebaliknya, kata Umar, “Jika kamu tidak setuju dengan usulan ini, maka kita tidak akan pernah lagi bersama dalam satu rumah.”

Tanpa berpikir panjang, Fatimah menyetujui usulan suaminya. Dia menyadari harta yang melimpah hanya menjadi beban bagi suaminya. Lalu dia mengumpulkan harta, dan perhiasannya untuk diserahkan ke Baitul Mal.

Dia ikhlas hidup bersama suaminya sebagai pejabat, namun tidak memiliki harta apa pun. Padahal, saat itu Umar sebagai khalifah besar memimpin Bani Ummayah yang wilayah kekuasaannya sangat luas.

Suami Fatimah ini dibaiat sebagai khalifah setelah shalat Jumat tahun 717 M. Menurut riwayat, kebijakan-kebijakan Umar selalu berpihak kepada masyarakat, dan berhasil memulihkan keadaan negara seperti masa empat khalifah Khulafaur Rasyidin.

Selama menjadi khalifah, gaji Umar sangat minim, hanya dua dirham per hari atau 60 dirham per bulan. Sebagai istri, Fatimah tidak pernah protes, apalagi menuntut lebih penghasilan suaminya. Dia ikhlas dan selalu mendukung suaminya.

Kesederhanaan dan kebijakan Umar membuat banyak kalangan menyematkan ‘gelar’ sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.

Sayangnya, kepemimpinan khalifah yang saleh, adil dan sederhana ini tidak berlangsung lama. Kurang dari tiga tahun memimpin Bani Umayah, sang khalifah meninggal dunia dibunuh melalui racun yang diberikan pembantunya.

Ketika Umar bin Abdul Azis meninggal, ia tidak meninggalkan harta apa pun untuk Fatimah dan anaknya.

Sepeninggal Umar, estafet Dinasti Ummayah dilanjutkan oleh saudara Fatimah bernama Yazid bin Abdul Malik.

Saat itu, Yazid menemui Fatimah untuk mengembalikan harta-harta yang disimpan di Baitul Mal. “Umar telah zalim pada hartamu, sekarang aku kembalikan kepadamu. Ambillah!” kata Yazid kepada adiknya.

Bendahara Baitul Mal pun pernah menemui istri Umar bin Abdul Aziz, menjelaskan bahwa perhiasan dan harta milik Fatimah masih utuh tersimpan. “Kami menganggap perhiasan-perhiasan itu sebagai barang titipan yang harus dijaga, dan akan kami kembalikan jika tuan membutuhkan.”

Bendahara Baitul Mal itu akan segera membawa harta perhiasan milik Fatimah, jika pemiliknya ingin menerima kembali hartanya. Nilai perhiasaan milik Fatimah saat itu mencapai jutaan dirham. Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran-tawaran itu?

Apalagi suaminya meninggal tanpa warisan yang mencukupi. Bukankah harta yang dititipkan ke Baitul Mal adalah perhiasan milik Fatimah dari ayahnya, maupun pemberian suaminya.

Namun Fatimah menolak semua tawaran itu. “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kembali. Karena aku patuh kepada suami untuk selamanya. Bukan ketika dia masih hidup aku patuh, lalu setelah meninggal berkhianat,” ujar Fatimah.

Yazid takjub dengan sikap saudara perempuannya itu. Lalu dia mengambil kembali harta-harta Fatimah dan membagikan kepada orang-orang yang berhak.

Sikap Fatimah yang kaya beramal ini menempatkan namanya sebagai perempuan salehah yang taat kepada suami.

Dia juga dicatat sebagai istri pemimpin yang sederhana, dan selalu mendahulukan kepentingan umat.

Andaikan istri para pemimpin dan pejabat memiliki sifat sederhana seperti Fatimah, niscaya perilaku korup dan hidup bermewahan dapat diminimalkan.

Masa muda Fatimah penuh dengan kesenangan. Dia menyukai sastra, dan memiliki wawasan sangat luas. Kekayaannya melimpah, karena dia putri seorang khalifah besar di masa Bani Ummayah.

Saat itu, kekuasaan yang dipegang ayahnya sangat luas meliputi negeri Syam, Irak, Yaman, Iran, sampai ke arah timur. Kekuasaannya meluas hingga ke Mesir, Sudan, Aljazair, Tunisia hingga Spanyol.

Fatimah memiliki empat saudara pria yang semuanya menjadi khalifah Islam, yaitu Khalifah Al-Walid, Khalifah Sulaiman, Khalifah Yazid, dan Khalifah Hisyam.

Ketika menikah dengan Umar bin Abdul Aziz, Fatimah dibekali ayahnya banyak perhiasan. Di antaranya anting-anting yang diberi nama anting Mariah sebagai sumber inspirasi para penyair dalam menggubah lagu di zaman itu.

Ketika menjadi istri khalifah, sebenarnya kemewahan dan harta yang dimiliki Fatimah bisa lebih melimpah lagi. Namun, ia tidak mau memanfaatkan jabatan suaminya. Dia memilih hidup sederhana daripada menjadi budak nafsu kemewahan dunia.

Dia sadar, harta dan kekayaan bagaikan air garam. Semakin diminum, akan semakin haus, merasa kurang dan kurang terus. Umar pun bangga terhadap sikap istrinya ini. Jangankan menyuruh suaminya korupsi, uang belanja sehari-hari yang diberikan hanya beberapa dirham selalu dibilang cukup.

Sikap sederhana dan keikhlasan Fatimah membuat Umar tenang bekerja memimpin pemerintahan. Fatimah yang cerdas selalu mendukung program kerja suaminya yang selalu memikirkan kesejahteraan umat.

Maksud Umar ketika menyimpan harta dan perhiasan istrinya di Baitul Mal tidak lain untuk kepentingan rakyat. Jika kondisi mendesak, harta-harta tersebut bisa dijual, lalu uangnya digunakan untuk keperluan masyarakat miskin.


Source: republika.co.id

Thursday, March 10, 2016

Bendera Yang Tertinggal

Bendera Yang Tertinggal



Umat Islam adalah umat yang mulia. Mulia karena berpegang pada agamanya. Semakin jauh mereka dari agama, sekadar itu pula kemuliaan hilang dari mereka. Berikut ini kisah tentang wibawa dan mulianya umat Islam di mata para musuh. Kisah ini bukan untuk membuat kita berbangga tanpa makna. Kisah ini adalah introspeksi bagi kita, sejauh mana kita meninggalkan agama ini, hingga kita menjadi begitu rendah diri.

Sepenggal Kisah Kejayaan Andalusia

Setiap kali perang meletus, pasukan Muslim membawa dan mengangkat panji-panjinya. Ketika berhasil menang dan menguasai satu kota, mereka akan menancapkan panji-panji itu di tempat-tempat tertinggi, lalu mengambilnya lagi ketika hendak pulang. Suatu ketika, pasukan al-Hajib al-Manshur (penguasa Andalusia) lupa mencabut dan mengambil panji yang telah ditancapkan di atas bukit di sejumlah benteng kota. Kota tersebut sudah berhasil mereka kuasai. Penduduknya dan pasukan musuh sudah kabur ke pegunungan terdekat. Akhirnya, mereka pergi meninggalkan kota dengan panji yang masih tertancap.

Pasukan musuh yang sudah kabur terus mengamati panji yang tertancap itu, yang menunjukkan bahwa sebagian pasukan muslim masih ada di sana untuk menyerang mereka jika keluar dari tempat-tempat persembunyian. Keadaan ini terus berlangsung selama beberapa hari. Akhirnya, mereka yakin bahwa seluruh pasukan muslim telah pergi dari kota, dan panji di atas bukit itu lupa dicabut. Oleh sebab itu, kalangan sejarawan menyebut perang ini sebagai Perang Panji/Bendera (Ghazwah al-Rayah).

Panji yang terlupakan tertancap kuat dan berdiri tegak. Itulah hari saat umat kita menjadi umat mulia dan penuh wibawa.



Umat Islam adalah umat yang Mulia, karena memegang teguh keimanan sehingga membuat musuh menjadi gentar. Umat Islam akan semakin hina, karena lemah memegang tali agama Allah, sehingga musuh tak memiliki rasa takut kepada kaum muslim, lantaran kita lebih cinta kepada dunia dan takut mati.

Pelajaran

Zaman Hajib al-Manshur memerintah Andalusia adalah sekitar tahun 368 H/979 M sampai 392 H/1002 M, kira-kira 4 abad setelah masa Rasulullah ï·º dan para sahabatnya. Selama 4 abad itu pula wibawa dan kemuliaan umat Islam menurun, berangsur pudar.

Rasulullah ï·º bersabda tentang wibawa yang ia dan para sahabatnya miliki. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ï·º bersabda, “Allah memberikan kepadaku lima perkara yang tidak diberikan-Nya kepada seorang nabi pun sebelumku: aku ditolong (oleh Allah dalam menghadapi musuh-musuhku) dengan rasa gentar (yang Allah masukkan ke dalam hati mereka) sebelum berhadapan denganku (sejauh jarak) sebulan perjalanan…” (HR. al-Bukhari (no. 328) dan Muslim (no. 521).

Allah ï·» berfirman menggambarkan wibawa dan kehebatan kaum muslimin di zaman Rasulullah ï·º,

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS:Al-Anfaal | Ayat: 65).

Awalnya Allah ï·» menetapkan satu berbanding sepuluh. Ketika jumlah kaum muslimin 1:10, maka Allah ï·» berikan kabar gembira mereka mampu mengalahkan jumlah besar tersebut. Karena kesabaran dan keimanan yang mereka miliki. Kemudian keadaan pun berubah. Dan Allah ï·» merubah ketetapan-Nya pula,

“Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan dia telah mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan. Maka jika ada diantara kalian seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantara kalian ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS:Al-Anfaal | Ayat: 66).

Allah ï·» menggantinya dengan satu berbanding dua.

Ini yang terjadi di zaman Rasulullah ï·º dan para sahabatnya. Kemudian keadaan tersebut terus menurun hingga sampai pada zaman Hajib al-Manshur.

Bagaimana dengan zaman kita? Di zaman kita, musuh-musuh kaum muslimin sama sekali tidak takut dengan kaum muslimin. hal ini menunjukkan betapa jauhnya kita dari agama. Betapa rapuhnya kualitas iman dan Islam kita. Rasulullah ï·º bersabda,

“Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu ‘wahn’?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278).

Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah ï·º bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridha dengan pertanian, serta meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud).

Rasulullah ï·º memberikan solusi dari kehinaan dan kerendahan ini dengan kembali kepada agama.

Mari kita kembali kepada agama kita, baik secara individu maupun masyarakat. Kembali mengkaji dan menelaah ajaran agama kita kemudian mengamalkannya dalam kehidupan.

Sumber: kisahmuslim

Monday, December 15, 2014

Berbulan Madu dengan Bidadari


Bismillahirrahmanirrahim...

bulan madu
Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. "Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja", sapa Rasulullah SAW.

"Allah bersamaku, wahai Rasulullah", jawab Zahid.

"Maksudku, mengapa selama ini engkau masih lajang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?", tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, "Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku..?".

"Mudah saja kalau kau mau..!" kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

"Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia", kata Zahid.

Said menjawab, "Ini adalah kehormatan buatku".

Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan "sekufu" (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah..?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihatku berbohong..?"

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, "Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini..? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk..?"

"Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya", kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. "Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah..!" jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, "Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu di tolak".

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, "Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW..?"

Said menjawab, "Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah."

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, "Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : 'Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.' (An-Nur : 51)."

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid..?" tanya Rasulullah.

"Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan..?" tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa."

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, "Ada apa ini..?"

Shahabat menjawab, "Zahid.., hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya..?"

Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, "Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik."

"Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga..?" kata para shahabat menasehati.

"Tidak mungkin aku berdiam diri..!" jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur. Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah." Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 - 170.

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati."

"Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."

Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah..?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, "Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak." Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak.


Dikutip dari buku "Ayat-Ayat Pedang - Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang" Oleh : Layla TM
Sumber: KIsah Islami

Sunday, July 27, 2014

 Kisah 5 Warga Palestina Mimpi Al Aqsa Dibebaskan Indonesia

Kisah 5 Warga Palestina Mimpi Al Aqsa Dibebaskan Indonesia






Ramadhan 1435 hijriyah ini kembali menjadi duka bagi warga Palestina. Pesawat-pesawat temput Zionis Israel meraung-raung di angkasa Gaza sejak Senin dini hari dan kemudian menjatuhkan bom-bom yang berdentum keras, meluluh lantakkan bangunan dan menumbangkan ratusan korban; 40 lebih gugur, 300 lebih luka-luka.

Di tengah perjuangan keras warga dan anak-anak Gaza untuk mempertahankan hidupnya, mimpi aneh lima orang warga Palestina menjadi perbincangan banyak pengguna media sosial.

Al kisah, di awal tahun ini, lima warga Palestina yang tinggal di sekitar Al Quds bermimpi. Yang aneh, mimpi mereka mirip, bahkan sama. Bahwa masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan masjid suci ketiga, akan dibebaskan orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Wajah-wajah mujahidin itu agak asing bagi mereka. Sebab wajah-wajah itu bukanlah wajah-wajah orang Palestina, bukan pula wajah orang-orang timur tengah. Tetapi ada kesamaan; ada aura wudhu yang menandakan bahwa mereka adalah umat Islam, orang-orang yang beriman. Dari mimpi itu mereka kemudian menjadi tahu bahwa para mujahid itu berasal dari Indonesia, sebuah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Salah seorang diantara mereka merasa heran, sebab ia belum pernah mendengar nama Indonesia dalam kehidupan nyata. Padahal Indonesia adalah negeri muslim terbesar dan dalam mimpi itu merekalah yang membebaskan Masjid Al Aqsa.

Dalam mimpi itu, tampak muslim Indonesia sangat banyak. Mereka tiba di Palestina dan bertempur melawan Israel. Peperangan demi peperangan dimenangkan oleh muslim Indonesia itu. Mereka tidak dapat dilawan. Hingga akhirnya, Israel pun takluk di tangan wajah-wajah asing itu.

“Mereka (orang-orang Indonesia) itu datang bagai air bah, mereka memenangkan peperangan demi peperangan dan Israel akhirnya tunduk pada mereka,” kata salah seorang menceritakan mimpinya saat bertemu secara kebetulan dengan orang yang bermimpi sama.

Kisah mimpi ini telah dimuat di Nabawia dan Bersamadakwah pada Februari lalu, namun kini kembali ramai diperbincangkan dan di-share di media sosial.

Sebagaian orang tidak percaya dengan mimpi aneh tersebut, sebagian lainnya percaya bahwa bisa jadi mimpi itu benar adanya. Sementara lebih banyak lagi orang-orang yang tersentuh dengan kabar mimpi tersebut dan menjadikannya sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri membela Palestina.

“Semoga mimpi itu benar. Dan tidak ada orang ketiga yang memang sengaja membuat mimpi itu ada. Jika pun ada, ini menjadi PR bagi ummat Islam Indonesia yang memiliki ummat Islam terbanyak di dunia,” kata Warlan Nasty mengomentari kabar mimpi tersebut.

“saya memang kepingin menjadi syuhada di Palestina untuk menembus dosa-dosa saya yang membumbung tinggi,” tambah Zulfikar.

“Insya Alloh jika Alloh mengizinkan saya berazzam menjadi air bah itu, atau walaupun saya tidak diizinkan maka harapan terbesar saya adalah anak keturunan saya yang menjadi bagian dari air bah itu….” kata Abdullah. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Tuesday, February 11, 2014

Siti Manggopoh, Singa Betina dari Sumatera Barat

Siti Manggopoh, Singa Betina dari Sumatera Barat


Perempuan perkasa ini memimpin rakyat berjuang melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ia berperang menentang penjajah Belanda dengan gagah berani.

Namanya memang tidak setenar R.A. Kartini dari Jepara Jawa Tengah, yang memperjuangkan nasib perempuan, atau Cut Nyak Din yang berani mempertaruhkan nyawa dalam c. Bahkan mungkin orang lebih mengenal Rochana Koeddoes, pejuang hak-hak perempuan di Padang. Namun kalau dilihat dari catatan perjalanan hidup dan sepak terjang Siti Manggopoh tidak kalah dari ketiga pendekar tersebut.

Dalam kelemahlembutannya sebagai perempuan Minang, ia mampu menunjukkan peran perempuan di tengah dominasi laki-laki yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Ia siap mengorbankan nyawa dalam beberapa pertempuran melawan penjajah Belanda.

Teriakan takbir “Allahu Akbar” selalu berkumandang untuk mengobarkan semangat perjuangan pasukan yang dipimpinnya, yang semuanya laki-laki. Karena keperkasaannya itulah , masyarakat Minang Menggelarinya “Singa Betina Manggopoh”. Dialah satu-satunya “Singa Batina dari Minangkabau”, karena tak ada perempuan seberani dia dalam merintis kemerdekan di Sumatera Barat.

***

SITI Manggopoh, yang bernama asli cukup singkat, Siti, lahir di bulan Mei 1880 di Kenagarian Manggopoh, Kecamatan Luhak Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Manggopoh merupakan kenagarian tertua di Agam, disamping tiga Nagari lainnya, Bawan, Tiku, dan Garagahan. Di sana sawah dan ladang terbentang subur menghijau, didukung 13 sungai besar dan kecil, salah satunya sungai Antokan.

Orang tuanya, Sutan Tariak dan Mak Kipap, sudah lama mendambakan seorang anak perempuan. Sebab lima anak mereka sebelumnya semuanya laki-laki. Sebagai seorang Minang yang menganut adat Materilinial, keberadaan perempuan sangatlah berarti, untuk meneruskan keturunan dan merupakan kebanggan keluarga. Sebelum kelahiran Siti, keduanya merasa miskin, sehingga ketika Siti lahir menjadi kebanggaan, ibarat mendapat pengisi rumah gadang, Rumah adat Minangkabau, yang sudah sekian lama kosong.

Tumbuh dalam lingkungan saudara yang semuanya laki-laki, Siti Kecil terbiasa ikut ke pasar, sawah, Surau bahkan ke gelanggang persilatan, yang tempo dulu hanya di ikuti oleh kaum laki-laki. Orang tua dan abang-abangnya mengajari dan mendidiknya menjadi perempuan pemberani.

Dalam bertemanpun Siti tumbuh di lingkungan laki-laki, meskipun dia juga punya teman perempuan. Namun dia lebih senang melewatkan waktu bermain dan berjalan-jalan dengan teman-teman laki-laki, malah bermain hingga jauh dari kampungnya. Teman akrabnya Dullah Sutan Marajo, Udin, dan Majo Ali.

Namun sebagaimana perempuan Minang lainnya, Siti juga belajar mengaji di Surau, Bapasambahan (belajar keterampilan perempuan), selain melengkapi diri dengan ilmu bela diri. Saat beranjak dewasa, diapun di tuntut orang tuanya untuk menikah. Tapi tentu tak mudah bagi Siti menerima lelaki begitu saja sebagai suaminya.

Ia menginginkan lelaki yang kriterianya sangat “Sempurna” di zaman itu, harus paham ilmu agama dan dapat menguasai ilmu beladiri. Apalagi, seiring waktu berjalan, kepribadian Siti yang terbentuk kukuh, pantang melihat kezaliman, baik terhadap perempuan dan bangsanya, maka ia menuntut lelaki yang akan menikahinya harus segaris dengan cita-cita perjuangannya. Sebab, kala itu Belanda mulai melirik Nagari Manggopoh

Untunglah, akhirnya lelaki yang sesuai dengan kriterianya ia dapatkan juga pada diri Rasyid Bagindo Magek. Mereka bertemu saat sama-sama melayat seorang penghulu nagari yang meninggal. Rasyid adalah pemuda asal kampung Masang, masih dalam Kabupaten Agam. Dia Bako, atau masih ada hubungan keluarga dengan ayah Siti. Dan ternyata lima tahun sebelumnya Rasyid adalah teman Siti berlatih silat, selain Dullah dan Majo Ali. Tapi setelah itu Rasyid sempat merantau kemudian kembali kekampung sebagai pemuda yang dihormati karena penguasaan terhadap ilmu agama dan silat.

Pada 1904, keduanya menikah, dan beberapa tahun kemudian dikaruniai dua orang anak: Muhammad Yaman, laki-laki, dan Dalima, Perempuan. Untuk menggairahkan kehidupan bernagari, mereka membuka Gelanggang silat, yang akhirnya melahirkan pesliat-pesilat tangguh.

Pada saat Belanda mulai merayapi kenagarian Manggopoh, Siti mulai tak senang. Apalagi Belanda datang dengan menarik Belasting atau pajak. Menurut Abel Tasman dan kawan-kawan dalam buku Siti Manggapoh , saat itu beban kerja Rodi sudah sangat memberatkan masyarakat Manggopoh, hingga Siti dan beberapa lelaki berkumpul secara sembunyi-sembunyi untuk mengatur strategi menghadapi Belanda. Diam-diam mereka juga terus menerus mengasah kemampuan bela diri.

Semua itu mereka bungkus dengan berpura-pura patuh kepada Kompeni Belanda, menerima blangko pembayaran belasting, tapi di belakang Belanda mereka merobek-robeknya. Repotnya Belanda belakang hari mengetahuinya juga, mereka lalu turun ke Manggopoh untuk menyelidiki sikap masyarakat yang sebenarnya. Mereka mendirikan pos di sebuah bukit sejauh dua kilometer dari pasar Manggopoh. Ketika masuk ke desa, beberapa serdadu Belanda bertindak sewenang-wenang, bahkan ada diantaranya yang merendahkan martabat perempuan. Mereka juga tidak bisa menjaga adat sopan santun yang berlaku di kalangan masyarakat Manggopoh, seperti mandi bertelanjang bulat di Sungai.

Perilaku tak senonoh itu, tentu saja memicu kemarahan Siti. Ia bertekad untuk melawan Belanda sebagaimana kafir-kafir yang menebarkan noda dan aib di kampungnya. Penduduk Manggopoh yang fanatik sependapat, sehingga Siti seperti mendapat “Modal keyakinan” untuk berjihad fi Sabilillah melawan kafir Belanda.

Ia segera mengumpulkan teman-teman seperguruannya di persilatan, sementara suaminya menghubungi para guru silat dan orang-orang yang dituakan, seperti H. Abdul Gafar, gelar Rajo Sipatokan, dan H. Abdul manna, ulama yang banyak memiliki santri dan pengikut. Siti dan suaminya juga mempersiapkan senjata tajam, seperti Keris, dan golok yang disebut Rudus atau Ladiang.

Mula-mula Siti dan kawan-kawannya berusaha mengendus informasi mengenai rencana dan kekuatan Belanda. Bahkan ia sempat terjun langsung untuk memata-matai pasukan Belanda. Sebagai perempuan yang berpengaruh karena kharismanya, dan dengan sinar mata yang tajam, serta senyum yang membungkus kemarahan, ia menjalin persahabatan dengan para prajurit bahkan petinggi Belanda di Manggopoh.

Daya pikatnya sebagai perempuan yang cantik di zamannya, membuat ia bebas dan leluasa keluar masuk pos Belanda dengan menyamar sebagai perempuan desa yang lugu. Setelah itu ia menggali dan menelaah informasi yang dibutuhkannya. Dengan demikian ia tahu apa rencana Belanda yang akan menangkap penduduk yang mengabaikan Belasting. Mereka yang tidak mau membayar pajak akan dipenjarakan atau dibunuh. Diantaranya Dullah, temannya.

“Kamu tahu Dullah?” Tanya komandan Belanda kepada Siti. “Dia miskin, tidak mungkin mampu membayar Belasting” sahut Siti sambil menahan kegeramannya. Si Komandan tak acuh, malah memperlihatkan senjata-senajata baru yang lumayan banyak dengan sikap bangga dan tanpa curiga. Karena itulah Siti tahu jumlah serdadu Belanda di Manggopoh sebanyak 55 orang.

Informasi penting itu segera disampaikan kepada teman-teman seperjuangannya, lalu setelah itu mengatur strategi perjuangan. Menurutnya penyerangan ini harus dilakukan secara terorganisasi dengan kekuatan yang sudah pasti. Ia akhirnya menunjuk sebuah masjid di kampung parit, beberapa ratus meter dari markas Belanda.

Untuk mempersiapkan penyerangan, ia mengumpulkan para tokoh adat dan cerdik pandai untuk bermusyawarah, dipimpin oleh Pakcik Tuanku Padang, ulama asal Padang yang dianggap sebgai Urang Sumando (sbuah kekerabatan) oleh masyarakat Manggopoh. Hasil musyawarah itu disepakati mengajak masyarakat Kamang untuk bergabung. Maka ditunjuklah Majo Ali untuk menemui Ninik Mamak masyarakat Kamang. Mereka bertekad, “Setapak tak akan mundur, selangkah tak akan kembali.”

Selanjutnya dibentuk pasukan Inti yang terdiri dari 17 orang yang dipimpin langsung oleh Siti. Mereka itu, Antara lain, Siti, Rasyid, Tuaku Padang, Dullah, Majo Ali, Rahman Sidi Rajo, Tabuh Mangkuto Sutan, Dukap Marah Sulaiman, Muhammad bagindo Sutan, Tabad Sutan Saidi, Kalik Bagindo Marah, Unik, Sain Sidi Malin, Kana, Dullah Pakih, Nak Abbas Bagindo Bandaro, dan Sumun Sidi Marah.

Namun ternyata ada dua warga Manggopoh yang berkhianat, sehingga pada 14 Juni 1908 keberadaa pasukan 17 tercium oleh Belanda. Belakangan Belanda juga tahu, selama ini Siti ternyata memata-matai kekuatan Belanda. Hubungan erat antara Siti, Dullah dan Majo Ali (yang selama itu di incar Belanda) juga ketahuan. Dengan tuduhan menghasut warga Manggopoh agar tidak membayar pajak, mereka bertiga itupun ditangkap.

Mula-mula Belanda mengepung rumah Dullah, tapi sebelumnya ia sudah buru-buru menyingkir. Akhirnya karena kesal, serdadu Belanda itu menangkap Lipah, istri Dullah, berikut sebilah tombak dan keris. Lalu mendatangi rumah Majo Ali, namun orang yang di cari masih berada di Nagari Kamang, maka pasukan Belanda itupun menyandra Lilah, adik kandung perempuan Majo Ali. Ketika serdadu-serdadu itu menggerebek rumah Siti dan Rasyid, lagi-lagi mereka tidak menemukan siapapun, rumah Siti kosong dan terkunci rapat, namun sebenarnya Siti tengah mengambil air di Sumur belakang rumahnya, sementara Rasyid sedang mengantar Padi ke Kincir.

Segera Siti mengumpulkan teman-teman “Pasukan 17” di Padang Mardani untuk merencanakan penyerbuan ke Markas Belanda. Padang Mardani adalah daerah yang angker, karena di kelilingi oleh pekuburan dan pepohonan besar yang lebat, sementara bila malam tiba berkabut tebal. Demi merahasiakan tempat berkumpul itu, pasukan 17 membuat kawasan itu semakin seram. Jika pasukan Belanda lewat, dimalam hari beberapa pasukan Siti bergelantungan di pohon berselimutkan kain putih mirip hantu. Tak jarang para serdadu Belanda itu lari tunggang langgang.

***

SUATU hari Siti mendengar keluarganya akan ditangkap. Ia segera mengungsikan mereka, orang tua dan dua orang anak Siti di sebuah pondok di Padang mardani. Siti sendiri bersama suaminya di pondok lain, jauh masuk di dalam hutan Padang Mardani. Ketika mereka mengungsi itulah, pada 15 Juni 1908 warga Kamang melancarkan serangan dahsyat terhadap pasukan Belanda. Dalam peperangan yang disebut sebagai perang Basosoh ini, majo Ali tampil gagah berani dengan keris di tangan. Di belakang hari ia digelari “Putra Manggopoh Aceh Pidie” karena keberaniannya menyerupai perlawanan pejuang Aceh melawan si kafir Belanda.

Keesokan harinya, sore hari, Rasyid dan Majo Ali yang ikut dalam perang Kamang kembali ke Manggopoh untuk mengumpulkan pasukan 17. mereka menyerukan agar warga Manggopoh juga segera mengangkat senjata,”mengapa kalian semua diam? Kalau diantara kalian ada yang takut mati, sebaiknya pulang saja menanak nasi, dan biarkan saja saya berdua dengan Majo Ali menyerang kafir Belanda,” seru Siti.

Suara lantang satu-satunya perempuan dalam anggota pasukan 17 itu menyinggung semua perasaan laki-laki yang hadir. Kontan satu persatu mereka mengacungkan tangan, siap berjuang. “Allahu Akbar,” teriak mereka bersama-sama. Selanjutnya mereka mengucapkan ikrar, “Allahu Akbar, setapak pun tak akan mundur, Esa hilang, duo terbilang, biar mati berkalang tanah daripado hidup terjajah.”

Pasukan itu lalu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Siti, Rasyid, Majo Ali, dan Dullah, tugasnya masuk ke dalam markas Belanda. Kelompok kedua, berjumlah 10 orang, bertugas menjaga semua jendela dan pintu markas agar tidak sampai ada serdadu Belanda yang lolos.

Usai berdzikir, Rahman Aidi Rajo, salah seorang anggota pasukan 17, menguji tekad kawan-kawannya. Diambilnya sepotong kayu, lalu ditancapkan ke tanah, dan setiap anggota pasukan disuruh mencabutnya. Siapa yang berhasil mencabut, tidak diperbolehkan ikut berperang, karena dianggap masih ragu, dan ternyata tak seorangpun yang berhasil mencabutnya.

Bukan tidak bisa, melainkan tidak mau mengerahkan tenaga untuk mencabutnya. Berarti semua bertekad untuk berperang dengan sepenuh hati, dan menurut firasat Sidi Rajo, insya’allah tidak akan ada yang gugur. Usai salat Isya’ berjemaah, sebagai komandan pasukan, Siti menegaskan, “kalau nanti berpaling, saudara-saudara dianggap keluar dari Islam, dan saya akan tetap terus maju, meskipun seorang diri.”

Kira-kira pukul 20.30, pasukan Siti sampai di kampung Parit, tempat strategis untuk mengatur siasat dan berlindung. Seorang diantara mereka diutus untuk mengamati situasi markas Belanda. Tak beberapa lama, utusan itu kembali dengan mengatakan bahwa pasukan Belanda telah tidur. Siti dan pasukannya berangkat mendekati markas Belanda.

Tepat pukul 22.00, mereka mengepung markas Belanda, namun baru dua jam kemudian mereka mendekat, diawali oleh kelompok pertama, Siti dan Majo Ali menyelinap ke dalam markas, disusul Rasyid dan Dullah. Kelmpok kedua, tinggal di luar, mengamati jendedla dan pintu agar tidak ada serdadu Belanda yang lolos. Majo Ali segera memadamkan semua lampu. Ketika Majo Ali sedang membuka pintu kamar Komandan pasukan Belanda dan hendak mematikan lampu, sang komandan terbangun dan langsung menyerang. Majo Ali tak sempat mengelak, lehernya tercekik, melihat itu, Siti segera menyerang si Komandan, dia memukul punggung si Komandan dengan ujung Rudusnya, dan Majo Ali pun terselamatkan, namun Siti terdesak, seketika Rudusnya menyabet lampu hingga ruangan menjadi gelap. Siti langsung menusuk perut si Komandan, maka Belanda kafir iktupun tewas seketika.

Di tengah pekik takbir bersahutan, satu persatu serdadu Belanda berjatuhan, hingga tiba-tiba suasana menjadi hening. Pasukan 17 mengira pasukan Belanda yang berjumlah 55 orang sudah mati semua. Maka pasukan juhad itupun kembali pulang. Mendadak terdengar rentetan tembakan. Pasukan Siti berlarian menyelamatkan diri, namun malang bagi Siti, dia tertembak di punggung kanan atas. Sementara suaminya, Rasyid tertembak di selangkangan. Siti menemui Rasyid. Ternyata masih ada dua serdadu Belanda yang masih hidup. Keesokan harinya, kedua serdadu itu melaporkan penyerangan tersebut ke markas Belanda di Lubuk Basung. Belanda segera mengirim bala bantuan dari Pariaman dan Bukit tinggi untuk mengamankan Manggopoh. Sejak itulah suasana di Manggopoh mencekam.

Para pemuka masyarakat, ninik mamak Manggopoh, ditangkap dan dipenjarakan di Lubuk Basung. Sementara warga Manggopoh mengurung diri di rumah atau mengungsi ke hutan. Manggopoh pun di jadikan daerah tertutup. Penduduk dilarang keluar masuk Manggopoh. Siapapun yang mencurigakan akan ditangkap, yang melawan, langsung tembak ditempat.

Akan halnya Siti dan Rasyid, yang tertembak, mereka pulang berpisah jalan. Sampai di pondokan orang tua dan anak-anaknya, Siti langsung menggendong Dalima, anaknya yang masih berusia dua tahun, sementara tangan kirinya membelai kepala Tamam yang duduk disampingnya. Darah yang terus mengucur dari luka di punggungnya tak ia perdulikan. Tak berapa lama, muncul seorang Nelayan bernama Saibun, memberi tahu bahwa Rasyid bersembunyi diseberang sungai Antokan.

Ia menawarkan diri mengantarkan Siti menemui Rasyid Siti pun berangkat menemui Rasyid dengan menggendong Dalima. Setelah menyeberangi sungai Antokan dengan Perahu Saibun, Siti Melihat Rasyid melambaikan tangan dari sebuah pondok kecil nun dikejauhan. Dengan susah payah Rasyid lari mendekat, namun karena banyak mengeluarkan darah, ia roboh, tepat saat berada dihadapan Siti.

Siti segera merawat luka suaminya di pondok kecil itu, tak berapa lama Rasyid siuman. Mereka menetap di pondok Saibun selama tiga hari, lalu pulang melewati hutan belukar. Mereka berjalan di siang hari, malam hari beristirahat, tidur di bawah pohon besar. Sampailah mereka di sebuah ladang milik seorang lelaki tua, dan menginap semalam. Dari petani tua itu mereka tahu, keadaan di Manggopoh semakin buruk. Petani itu juga bercerita, Belanda telah mengumumkan akan memberi hadiah besar kepada siapapun yang berhasil memberi tahu tempat persembunyian Siti dan Rasyid.

Sementara itu tuanku padang, yang tidak ikut dalam penyerangan, karena tengah berada di Padang, merasa geram. Sehari setelah penyerangan yang dilakukan oleh pasukan 17, pada pukul 20.00 ia menyerang markas Belanda dibantu Unik dan Kana. Tapi mereka bertiga gugur. Dan segera setelah itu, Nagari Manggopoh dibumihanguskan oleh Belanda.

Adapun Majo Ali dan Dullah, yang bersembunyi di hutan, melarikan diri, sebab dikejar-kejar oleh pasukan Kavaleri Belanda. Karena kelaparan dan kelelahan, mereka tak mampu lagi berlari. Akhirnya Belanda menemukan mereka terkapar tak berdaya. Mereka gugur ditembak musuh dari jarak dekat.

Setelah 17 hari, Siti dan Rasyid dalam pelarian, sementara situasi di Manggopoh semakin tak menentu, tak tega mendengar keadaan itu, mereka sepakat menyerahkan diri. Mereka tak ingin rakyat lebih sengsara gara-gara Belanda ingin menangkap mereka. Dengan menyerahkan diri, mereka berharap Belanda tak akan lagi menekan dan menyengsarakan rakyat. Mereka lalu menemui wali nagari Bawan untuk menyerahkan diri. Disepanjang jalan, mereka saksikan warga Bawan menutup rapat pintu rumah mereka karena ketakutan. Mereka bertemu Djunis, warga Bawan, yang ternyata pernah belajar ilmu silat kepada Rasyid di Masang. Maka mereka tinggal sehari di rumah Djunis, baru pada keesokan harinya ke kantor wali nagari Bawan.

Ternyata tentara Belanda sudah menunggu di sana. Ketika mereka hendak diborgol, wali nagari mencegah, Jangan mereka diborgol atau dilukai, sebab hal itu dapat memicu kemarahan warga Manggopoh dan sekitarnya, kata wali nagari Bawan. Pada pukul 12.00 mereka bersama Dalima dalam gendongan Siti, diangkut ke Lubuk Basung dengan pengawalan ketat pasukan Belanda. Ternyata orang tua dan anak sulung mereka, Yaman, sudah lebih dulu berada di sana.

Meski sudah menyerah, Siti masih saja menunjukkan keperkasaannya sebagai pahlawan. Menjawab introgasi petugas klonial Belanda, dengan lantang ia menyatakan tidak takut dihukum gantung, :Saya menyerang markas dan membunuh serdadu Belanda, karena Belanda telah melanggar adat dan agama warga Manggopoh,” katanya. “Saya peringatkan pula agar serdadu-serdadu Belanda tidak lagi merendahkan martabat perempuan Minang yang sangat ditinggikan di masyarakatnya,” menyaksikan keberanian perempuan itu, introgator kolonial itu geleng-geleng kepala.

Akhirnya untuk sementara mereka ditahan di Lubuk Basung. Setelah mendekam di tahanan selama 14 bulan, mereka dipindahkan ke penjara Pariaman, dan 18 bulan kemudian mereka dipindahkan lagi ke penjara Padang. Setelah 12 bulan di penjara di Padang, Rasyid dibuang ke Manado, Siti yang juga minta dibuang bersama suaminya ke Manado, malah dibebaskan dengan alasan punya anak kecil. Sejak saat itulah tak terdengar lagi genderang perang di Manggopoh. Siti tinggal di rumah mengasuh anaknya, Dalima, yang tak lama kemudian meninggal.

***

PADA 1960, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Nasution menyampaikan penghargaan kepada Siti, bertempat di balai nagari. Nasution mengalungkan penghargaan Negara dan rakyat atas keperkasaan Singa Betina dari Sumatera Barat itu. Sang Jenderal bahkan sempat membopong dan mencium wajah tua Siti, yang di hari-hari tuanya sering dipanggil Mande (Ibu) Siti.

Ketika usianya mencapai 78 tahun, tubuhnya semakin lemah, sementara matanya mulai rabun. Namun akhirnya pada tahun 1964 harapan masyarakt Manggopoh terwujud juga. Pemerintah RI menggelari Siti sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI. Dan setahun kemudian, tepatnya 22 Agustus 1965, sang pahlawan pun wafat dalam usia 85 tahun di rumah salah seorang cucunya di kampung Gasak, Kabupaten Agam. Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan Padang.

Riwayat perjuangan Singa Betina yang gagah berani itu tersimpan di museum Adityawarman dan Gedung Wanita Rochana Koeddoes, Padang. Siti telah berjuang, Siti telah tiada, tapi sosok kepahlawanan dan perjuangannya tetap dikenang sepanjang masa.


Sumber Kisah diambil dari SUFI Zona